Rekaman Satu Derita Anak Negeri

 

Jakarta Siswa SD di Sang Hiang, Lebak, Banten, mesti meniti jembatan rusak untuk bersekolah. Nyawa mereka pertaruhkan untuk meraih ilmu. Kondisi ini begitu memilukan. Bandingkan saja, berapa anggaran pendidikan di APBN atau berapa rupiah dana yang digelontorkan untuk renovasi ruang Banggar DPR.

“Ini bukti negara belum berpihak pada pendidikan. Negara dikuasai predator yang menggunakan kekayaan untuk memperkaya diri sendiri,” komentar anggota Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri, Jumat (20/1/2012).

Fenomena siswa SD yang sekolah dengan susah payah meniti jembatan ini bukan hanya terjadi di Banten, beberapa waktu lalu juga terjadi di Garut. Ini menjadi sebuah fenomena, pejabat pemerintah jangan hanya asyik melakukan perbaikan gedung atau bermain-main dengan anggaran.

“Bagaimana kebijakan Kemendikbud? Bagaimana sikap para wakil rakyat di Senayan? Kebijakan di bidang pendidikan tidak efektif di lapangan karena dibajak kelompok predator,” jelasnya.

Kasus yang terhangat yakni renovasi ruangan Banggar DPR Rp 20,4 miliar. Febri melihat, contoh kasus itu bukti kalangan pejabat negara tidak melihat masalah mendalam masyarakat di daerah. Uang terlalu besar berputar di seputaran para pejabat itu.

“Seandainya anggaran negara dipakai dengan benar, kita bisa bayangkan betapa makmurnya dan sejahteranya bangsa ini. Kalau kita tahu, betapa laporan BPK setiap tahunnya triliunan uang negara ditemukan indikasi ketidakwajaran. Ke mana uang itu?” tanyanya.

sumber : detiknews.com
(ndr/nrl)

Posted in Berita | Leave a comment

JIKA HARTA MENJADI JURANG PEMISAH ANTARA PENDIDIKAN DAN UMMAT

Judul di atas hanya ungkapan spontanitas ketika melihat realita yang ada saat ini. Terlebih lagi belum lama mendapat kabar dari teman yang sampai saat ini masih aktif di sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan gratis bagi anak-anak jalanan. Singkat cerita, ternyata “gangguan” pun bertubi-tubi menghadang. Yang saya ikut prihatin, gangguan itu berasal dari oknum-oknum instansi dan oknum yang menginginkan lahan yang dijadikan tempat pendidikan gratis tersebut “dipindahkan” atau mungkin diganti dengan sarana bisnis. Allahu Akbar….

Padahal dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan, lembaga pendidikan gratis teman saya itu ternyata bukan hanya sekedar lembaga pendidikan. Bahkan, seperti tempat “peraduan” terakhir masyarakat yang papa dan menderita. Ada ibu yang akan melahirkan ditinggal suaminya, ada jenazah yang bingung mengurusnya karena tidak mempunyai biaya, dan berbagai macam “potret” ketidakmampuan.

Sempat saya berseloroh kepada teman saya….”hai bang….ente harusnya maju jadi walikota saja ya…”. Lalu ia jawab…”ah…tanggung..mending jadi presiden sekalian”.

Kisah nyata di atas mungkin salah satu potret, bagaimana seorang insan sebuah lembaga yang mempunyai visi mulia, namun masih saja dihadang oleh para pemburu harta. Padahal seharusnya visi itu didukung dan dimajukan.

Belum kita lihat lagi, ketimpangan yang luar biasa di negeri ini. Masyarakat terus digiring pada opini bahwa ilmu atau pendidikan adalah milik orang-orang yang berlebih harta. Bagaimana tidak, mari kita perhatikan realita di depan mata kita. Lembaga pendidikan dibuat sesuai kelas dompet masyarakat. Ada program gratis dari pemerintah, namun ya tentu harus banyak bersabar. Suatu ketika saya pulang kampung, ternyata pendidikan gratis pun sudah sampai di sana. Namun yang membuat saya kaget dan sedih, adik saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar “gratis” itu pun harus ekstra bersabar giliran memakai buku sumbangan dari sekolahan.

Di sisi lain, ada berbagai macam lembaga pendidikan yang “khusus” dibuat bagi mereka yang berdompet tebal. Melihat gate depan gedungnya pun saya berdecak kagum dan pada saat itu pula saya membayangkan dan menduga, jika ada orang tua yang kurang mampu secara financial melihat gedung ini pun akan merinding dan menunduk seraya berkata di dalam hatinya “wah ini tentu bukan sekolahan untuk anak saya”. Dan yang menambah tumpukan keprihatinan saya adalah gedung-gedung sekolah mewah itu pun berlabelkan Islam. Namun jauh bagaimana memperlakukan secara adil ilmu dalam pandangan Islam.

Mungkin sampai di sini ada yang berargumen, “Ya kan wajar jika bayarnya mahal maka fasilitas pun harus lebih mahal?”. Bagi yang berargumen demikian silahkan atau bahkan ingin mengungkapkan seribu alasan seilmiah mungkin juga silahkan. Tapi yang saya bicarakan bukanlah masalah teknis itu, karena jika hanya bermain logika jelaslah benar, di mana ada uang di situ ada rupa.

Yang ingin saya ajak bicara bukanlah semata-mata logika, namun hati nurani ada di masing-masing dada kita. Benarkah jika pendidikan atau ilmu harus dibayar dengan banyaknya harta? Adilkah jika di saat banyak yang berlomba-lomba mencari sekolah yang paling mahal, namun di saat itu pula ada orang tua yang tidak mampu menanggung biaya operasional sekolah anaknya?

Pertanyaan di atas bukanlah sindiran bagi para orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang berkelas. Namun lebih untuk para insan pendidikan yang mengaku ingin “meninggikan” Islam. Janganlah lalu kita kehilangan arah, janganlah lalu kita berjuang dengan menutup sebelah mata. Mari kembali ke fitrah, bahwa ilmu adalah milik setiap manusia. Bahwa ilmu adalah milik mereka yang terus berusaha belajar. Jangan jadikan harta sebagai jurang pemisah. Biarlah ilmu bertemu dengan setiap orang yang telah berusaha menemuinya. Biarlah ilmu bertemu dengan setiap orang yang telah keras berjuang untuk mendapatkannya.

Lalu bagaimana teknisnya?

Jika cara berfikir dan niat kita telah lurus, insyaAlloh urusan teknis akan dipermudahNya. Mungkin subsidi silang dari para orang tua yang mampu juga bisa menjadi salah satu solusi. Solusi bagi orang tua yang tidak mampu, menjadi solusi juga bagi orang tua yang mampu agar berinvestasi jangka panjang untuk akhirat mereka.

Sekali lagi, penulis tekankan…bahwa ini adalah opini spontanitas….jika ada yang pantas maka mari opini ini kita perluas, hingga terdengar dan dipertemukan dengan nurani-nurani yang telah hilang. Jika ada kesalahan…penulis dengan senang hati menerima masukan dan saran yang memang benar-benar berniatkan meninggikan suara kebenaran.

Wallahu ‘alam.

Posted in Opini | Leave a comment

Kenapa Ibu Tidak Shalat?

Suatu saat, teman saya berbagi pengalaman ketika beliau mesti menyuruh anaknya shalat tetapi anaknya malah protes, “Kok, Ibu enggak shalat?”

Ibunya bingung mau menjawab apa. Ya, jelaslah ibunya cuma bisa menyuruh shalat tetapi dirinya sendiri tidak shalat, soalnya, si ibu sedang haid.

Bingung … bingung …

Akhirnya, si ibu bertanya ke kawannya, sesama ibu muda. Kira-kira, apa jawaban kawannya itu?

“Jelasin aja dengan cara sederhana. Bilang gini, ‘Kamu tahu ayam ‘kan? Ayam itu bertelur ‘kan? Kalau telur ayam enggak jadi anak ayam, nanti telurnya pecah. Nah, telur ibu sekarang sedang pecah.’”

Simpel ya!

Logika yang sederhana, ilmiah, dan mudah dipahami kanak-kanak: Ayam punya telur -> Kalau telur tidak dierami maka telurnya pecah -> Ibu juga punya “telur” di dalam ovarium -> Kalau tidak dibuahi dan tidak berkembang menjadi janin, telur itu pecah. Itulah mekanisme menstruasi pada wanita.

Menjelaskan beragam pertanyaan si comel memang perlu ilmu dan trik tersendiri. Di satu sisi, kita diharapkan bisa menjawab keingintahuan si anak. Di sisi lain, waspadalah! Kalau sampai asal ngomong dan berprinsip “yang penting bisa jawab”, boleh jadi, logika yang kita sampaikan malah jadi bumerang yang berbalik menyerang kita.

Kalau contoh berikut ini, saya baca dari sebuah tulisan. Entah cerita nyata atau sekadar rekaan, tetap ada pelajaran penting untuk para ibu di dalamnya.

“Bu, ‘diperkosa’ itu apa?” seorang anak kecil bertanya kepada ibunya tentang makna “diperkosa”. Mungkin dia mendengar dari perkataan orang lain atau mungkin juga akibat nonton TV tanpa pengawasan orang tua.

Ibu mana yang tak bingung ketika harus menjawab pertanyaan seperti ini.

“Diperkosa itu artinya ‘dicium’,” begitulah jawaban si ibu, sekenanya.

Para ibu sekalian tentu tahu bahwa anak-anak itu memiliki daya rekam yang cepat. Gara-gara dibekali pengetahuan bahwa “diperkosa” itu sama dengan ‘dicium’, lihat saja kejadian setelahnya.

“Ibu … aku diperkosa Kakak!” si kecil berteriak dari dalam rumah. Sontak saja si ibu malu bukan kepalang. Tamu yang sedang dia jamu, langsung saja dia tinggalkan sebentar untuk melihat keadaan anaknya.

Ternyata, si kakak hanya mencium adiknya itu. Maklum, karena sudah pernah diajari ibunya bahwa “diperkosa” itu artinya ‘dicium’, si adik yang polos pun berteriak, “Ibu, aku diperkosa Kakak.” Padahal, kakaknya sekadar mencium ketika mereka sedang bermain-main.

Nah, kalau Anda yang ditanya oleh anak Anda tentang makna “diperkosa”, bagaimana jawaban Anda?

 

sumber : milis sunnihoscholling

Posted in Artikel | 1 Comment